Screenshot_20260119_084527_WhatsApp-1-1024x564 Hari Keenam Operasi SAR: Delapan Jenazah Korban Pesawat ATR Ditemukan, Dua Teridentifikasi
sumber: Basarnas

Makassar, EBS FM Unhas — Tim Search and Rescue (SAR) Gabungan kembali menemukan enam jenazah korban kecelakaan pesawat ATR 42-500 di kawasan Gunung Bulusaraung, Kabupaten Pangkep, Sulawesi Selatan. Dengan temuan tersebut, hingga hari keenam operasi pencarian, Kamis (22/1), total jenazah korban yang berhasil ditemukan berjumlah delapan orang, dengan dua di antaranya telah teridentifikasi.

Keenam jenazah terbaru ditemukan di area jurang dengan medan terjal dan sulit dijangkau. Seluruhnya berada di satu lokasi yang saling berdekatan, sekitar 250 meter di bawah puncak gunung. Penemuan ini dilaporkan sekitar pukul 09.30 Wita oleh Tim SAR Gabungan yang bergerak di sektor selatan Pegunungan Bulusaraung.

Lokasi penemuan tidak jauh dari titik jatuh pesawat yang sebelumnya telah diidentifikasi oleh Tim SAR Gabungan. Posisi para korban berada di jurang curam dengan radius sekitar 50 meter dari titik temuan awal.

Dikutip dari detikSulsel, Kepala Basarnas Makassar menjelaskan bahwa kondisi medan yang ekstrem membuat proses evakuasi memerlukan teknik khusus serta perhitungan yang matang demi keselamatan personel. Tim SAR Gabungan pun menyiapkan metode evakuasi yang disesuaikan dengan karakteristik lokasi penemuan.

“Enam jenazah sudah kami rencanakan untuk dievakuasi menggunakan teknik vertical rescue dengan metode jetring. Setelah diangkat ke puncak, jenazah akan dibawa ke posko, lalu dievakuasi ke Rumah Sakit Bhayangkara untuk proses identifikasi,” ujar Asisten Operasi Kepala Staf Kodam XIV/Hasanuddin, Kolonel Inf Dody Triyo Hadi.

Dari total delapan jenazah yang telah ditemukan, dua korban berhasil diidentifikasi, masing-masing pramugari Florencia Lolita Wibisono dan staf Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP), Deden Maulana. Selain itu, Tim SAR Gabungan juga menemukan satu potongan tulang lengan yang masih menjalani proses identifikasi oleh tim Disaster Victim Identification (DVI) Polri.

Seluruh jenazah yang berhasil dievakuasi dibawa ke posko SAR untuk penanganan awal sebelum dipindahkan ke Rumah Sakit Bhayangkara. Proses identifikasi lanjutan sepenuhnya dilakukan oleh tim DVI Polri sesuai prosedur yang berlaku.

Kondisi jenazah dilaporkan telah mengalami pembengkakan akibat berada di lokasi selama enam hari. Hal tersebut menyebabkan proses pengenalan di lapangan menjadi terbatas, sehingga Tim SAR Gabungan di garis depan hanya melakukan penandaan dan pendokumentasian posisi korban.

Untuk korban yang masih belum ditemukan, Tim SAR Gabungan mengubah strategi pencarian dengan menerapkan sistem pergerakan selama tiga hari di lapangan. Selain itu, wilayah pencarian dibagi ke dalam delapan sektor dengan kode warna berbeda guna mempermudah pemetaan, meningkatkan koordinasi, serta memperbesar peluang menemukan seluruh korban di medan ekstrem Gunung Bulusaraung.

Lisa Hastuti