sumber: Universitas Hasanuddin

Makassar, EBS FM Unhas — Universitas Hasanuddin (Unhas) menyiapkan pembangunan dapur Program Makan Bergizi Gratis (MBG) sebagai dukungan terhadap peningkatan gizi masyarakat. Dapur ini tidak hanya menjadi fasilitas produksi makanan, tetapi juga laboratorium hidup berbasis riset di lingkungan kampus. Program ini merupakan hasil kerja sama dengan Yayasan Metavisi Akademika Nusantara dan akan dibangun di kawasan Kampus Unhas Tamalanrea.

Dapur tersebut dirancang untuk memproduksi ribuan porsi makanan bergizi setiap hari yang akan didistribusikan ke sekolah-sekolah sebagai bagian dari Program MBG. Selain itu, dapur ini juga akan mengedepankan standar gizi yang terukur dengan melibatkan ahli gizi serta pengawasan kualitas bahan baku, sehingga makanan yang dihasilkan tidak hanya cukup secara jumlah, tetapi juga tepat dari segi kandungan nutrisi dan keamanan konsumsi.

Rektor Unhas, Prof. Jamaluddin Jompa, dalam akun Instagram resminya, menyampaikan bahwa program ini tidak hanya fokus pada penyediaan makanan, tetapi juga menjadi bagian dari upaya peningkatan kualitas sumber daya manusia sejak usia sekolah.

“Saya ingin memastikan bahwa dapur MBG yang kita bangun ini tidak sekadar tempat produksi makanan. Lebih dari itu, ini harus menjadi ruang hidup bagi riset, inovasi, dan pengabdian,” ujarnya.

Ia juga menegaskan bahwa keberadaan dapur ini akan melibatkan berbagai elemen di lingkungan kampus, mulai dari mahasiswa, dosen, hingga tenaga ahli. Dengan demikian, manfaatnya tidak hanya dirasakan oleh penerima program, tetapi juga menjadi sarana pembelajaran langsung bagi civitas academica.

“Kami dorong seluruh prosesnya berbasis kekuatan internal Unhas, mulai dari bahan baku, keterlibatan ahli gizi, hingga distribusinya. Saya ingin setiap makanan yang dihasilkan tidak hanya berkualitas, tetapi benar-benar menjamin pemenuhan gizi bagi masyarakat,” tambahnya.

Selain itu, program ini juga membuka peluang bagi mahasiswa untuk terlibat dalam kegiatan penelitian, praktik lapangan, hingga pengabdian kepada masyarakat yang relevan dengan bidang ilmu masing-masing, seperti kesehatan, pangan, dan teknologi. Dengan demikian, dapur MBG tidak hanya berfungsi sebagai fasilitas layanan, tetapi juga sebagai ruang pembelajaran kontekstual yang aplikatif.

Dengan pengembangan dapur MBG ini, Unhas diharapkan mampu menjadi pusat pengembangan model layanan gizi berbasis kampus yang terintegrasi, sekaligus mendukung program pemerintah dalam meningkatkan kualitas kesehatan masyarakat.

M. Rusyaid Ridho