Makassar, EBS FM Unhas — Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas Hasanuddin (FISIP Unhas) menggelar dialog publik dan pemaparan visi-misi bakal calon dekan FISIP Unhas periode 2026–2030 di Gedung IPTEKS Unhas, Kamis (16/4). Salah satu bakal calon dekan FISIP Unhas nomor urut dua, Prof. Muhammad, memaparkan visi kepemimpinan FISIP Unhas yang berorientasi pada penguatan karakter, dampak, dan kemandirian institusi. Ia menegaskan bahwa arah pembangunan fakultas harus berlandaskan semangat kebersamaan sebagaimana tagline FISIP Unhas, “bersama, bersatu, berjaya”.

Visi yang diusung menempatkan FISIP Unhas 2030 sebagai fakultas yang berkarakter, berdampak, mandiri, serta berorientasi pada Sustainable Development Goals (SDGs) dalam menavigasi masa depan Benua Maritim Indonesia. Menurutnya, visi tersebut bukan sekadar slogan, melainkan harus ditopang oleh perubahan sikap dan budaya akademik di seluruh lini.

Ia menekankan bahwa pembentukan karakter menjadi fondasi utama yang harus dimiliki seluruh sivitas akademika, mulai dari pimpinan, dosen, mahasiswa, hingga alumni. Nilai-nilai tersebut, lanjutnya, harus berakar pada etika dan spiritualitas agar mampu menjadi landasan dalam menjalankan peran akademik maupun sosial.

Dalam praktiknya, Prof. Muhammad menyoroti pentingnya membangun relasi yang lebih dekat antara dosen dan mahasiswa tanpa mengabaikan tata krama. Kedekatan tersebut dinilai penting untuk menciptakan ruang belajar yang terbuka, sekaligus tetap menjaga etika dalam interaksi akademik.

“Semuanya harus beradab, semuanya harus berkarakter: rektor, pimpinan fakultas, mahasiswa, alumni. Kalau karakter kita sudah terbentuk dengan baik, dengan pilar-pilar spiritual, semuanya akan mudah,” tegasnya.

Lebih jauh, ia merumuskan konsep “berkarakter” sebagai kompas navigasi moral dan operasional yang bertumpu pada empat pilar utama, yakni integritas, meritokrasi, kemanusiaan, dan kemandirian. Integritas, menurutnya, harus tercermin dalam kedisiplinan dan tanggung jawab, termasuk dalam hal sederhana seperti ketepatan waktu dosen dan mahasiswa dalam menjalankan kewajiban.

Pada aspek meritokrasi, ia menegaskan pentingnya sistem yang objektif dan bebas dari kepentingan personal maupun kelompok. Ia menyoroti perlunya komitmen tegas untuk menghapus praktik yang berpotensi mengarah pada korupsi, kolusi, dan nepotisme (KKN), serta memastikan seluruh proses berjalan secara terukur dan transparan.

Sementara itu, nilai kemanusiaan ditekankan melalui empati sosial dan kepekaan terhadap persoalan kemiskinan, ketimpangan, serta keadilan sosial. Ia berharap FISIP Unhas dapat berperan sebagai lokomotif dalam mendorong perubahan sosial yang lebih adil dan inklusif.

Adapun kemandirian dimaknai sebagai ketangguhan institusi dalam menghadapi dinamika global melalui inovasi dan penguatan sistem. Untuk itu, ia mendorong akselerasi akademik dan ekspansi jaringan global melalui pengembangan kurikulum masa depan, penguatan Tri Dharma Perguruan Tinggi, internasionalisasi proaktif, desentralisasi otonomi anggaran, serta revitalisasi kelembagaan mahasiswa.