Makassar, EBS FM Unhas — Yovie Widianto, Staf Khusus Presiden Bidang Ekonomi Kreatif, hadir sebagai pembicara dalam kuliah umum Creative Generation yang diselenggarakan Universitas Hasanuddin (Unhas) di Arsjad Rasjid Lecture Theatre, Kamis (23/4). Dalam pemaparannya, Yovie membahas bagaimana perkembangan teknologi memengaruhi cara orang berkarya, khususnya di bidang musik dan industri kreatif.
Yovie menilai, dalam 10 tahun terakhir perubahan budaya dan teknologi terjadi sangat cepat. Karena itu, menurutnya, siapa pun yang tidak mau beradaptasi berpotensi tertinggal. Ia pun melihat teknologi sebagai alat bantu yang dapat mempercepat proses berkarya, bukan sesuatu yang perlu ditakuti.
“Dalam 10 tahun terakhir terjadi perubahan budaya dan teknologi. Kalau saya tidak aware dengan teknologi, saya bisa tergilas. Jadi, bagi saya teknologi bukan mengganggu, tetapi membantu proses berkebudayaan, tergantung siapa yang menggunakannya,” ujar Yovie.
Ia juga menyinggung maraknya penggunaan kecerdasan buatan atau Artificial Intelligence (AI), termasuk dalam pembuatan lagu. Yovie mengakui AI mampu menghasilkan karya dengan cepat dan terdengar presisi, namun karya tersebut dinilai cenderung cepat membosankan. Menurutnya, hal itu terjadi karena AI tidak benar-benar memahami makna di balik proses berkarya.
“AI bisa menghasilkan sesuatu yang bagus dan sangat presisi, tapi AI tidak punya hati. Jadi, gunakan teknologi sebagai alat untuk mengakselerasi, tetapi kekuatan utama tetap ada pada hati dan pengalaman manusia,” jelasnya.
Selain itu, Yovie mengingatkan bahwa AI bekerja berdasarkan data dan algoritma, sehingga hasilnya hanya berupa “pantulan” dari karya yang sudah ada. Ia juga menyoroti mulai munculnya pola tulisan yang seragam akibat ketergantungan pada AI, baik di media maupun karya kreatif lainnya. Oleh karena itu, ia menekankan pentingnya menjaga keaslian serta tetap berpikir kritis dalam menggunakan teknologi.
Di akhir pemaparannya, Yovie mengajak mahasiswa untuk tidak sepenuhnya bergantung pada teknologi dalam berkarya. Ia menegaskan bahwa kreativitas, pengalaman, dan kejujuran menjadi hal utama yang membuat sebuah karya terasa hidup. Menurutnya, teknologi sebaiknya dimanfaatkan sebagai alat bantu, sementara “rasa” dan sudut pandang manusia tetap menjadi kekuatan utama dalam menghasilkan karya yang bermakna.
Fadiah Nadhilah Irhad
