Makassar, EBS FM Unhas — Universitas Hasanuddin berkolaborasi dengan Badan Gizi Nasional (BGN) sukses menyelenggarakan diskusi publik “BGN Goes to Campus” di Auditorium Prof. A. Amiruddin, Fakultas Kedokteran Unhas, Selasa (5/5). Kegiatan ini dihadiri perwakilan BGN pusat dan daerah serta civitas academica Unhas untuk membahas penguatan program Makan Bergizi Gratis (MBG). Rektor Unhas, Prof. Jamaluddin Jompa, dalam sambutannya menekankan pentingnya sinergi lintas disiplin dalam mendukung implementasi program tersebut.
Ia menyampaikan bahwa pelaksanaan program SPPG di Unhas menjadi contoh nyata kolaborasi interdisipliner, di mana berbagai fakultas terlibat sesuai keahliannya. Sejalan dengan itu, Fakultas Kesehatan Masyarakat (FKM) berperan dalam evaluasi, terutama pada aspek gizi dan kesehatan lingkungan, sehingga pengelolaan dapur SPPG diharapkan memenuhi standar terbaik dan dapat menjadi percontohan nasional.
Selain aspek sistem, ia juga menyoroti pentingnya kualitas bahan pangan, termasuk pemilihan jenis ikan yang harus memiliki nilai gizi tinggi sekaligus sesuai dengan selera generasi saat ini. Di sisi lain, keterlibatan berbagai program studi, termasuk bidang ekonomi dan teknik, dinilai penting untuk menghadirkan inovasi yang mendukung keberlanjutan program.
“Seluruh target kami, dapur SPPG Unhas di kampus ini 100 persen menggunakan produk dari Unhas,” harapnya.
Ia menambahkan bahwa berbagai inovasi telah mulai dikembangkan, termasuk penyedap rasa non-MSG sebagai alternatif yang lebih sehat. Menurutnya, cita rasa tetap penting, tetapi aspek kesehatan harus menjadi prioritas utama. Dalam pengembangan ke depan, Unhas juga mulai melakukan kajian kesehatan anak melalui pendekatan metagenomik dengan memanfaatkan potensi laboratorium dan peneliti yang ada.
Momentum ini, menurutnya, menjadi peluang untuk menjawab berbagai persoalan kesehatan, mulai dari trauma, masalah sosial, hingga gaya hidup. Ia juga menekankan prinsip kemandirian dengan memprioritaskan penggunaan produk dalam negeri, sehingga seluruh kebutuhan dalam program SPPG Unhas diharapkan dapat dipenuhi dari hasil produksi internal maupun nasional.
“Peluangnya adalah kita diberi ruang untuk berjuang, dan kita harus hadir dengan kemampuan sendiri,” ujarnya.
Lebih jauh, ia menilai capaian Unhas, seperti perolehan SDGs Action Award, menjadi indikator kesiapan institusi untuk berkontribusi lebih luas. Program ini juga membuka peluang besar bagi lahirnya produk-produk berkualitas yang dapat masuk dalam jejaring SPPG, sekaligus mendorong munculnya inovasi dan startup dari kalangan akademisi sebagai bentuk kontribusi tidak hanya di bidang akademik, tetapi juga ekonomi berbasis inovasi.
Fadiah Nadhilah Irhad
