Makassar, EBS FM Unhas — Badan Gizi Nasional (BGN) menyelenggarakan diskusi publik “BGN Goes to Campus” di Auditorium Prof. A. Amiruddin, Fakultas Kedokteran Universitas Hasanuddin, Selasa (5/5). Kegiatan ini menghadirkan Nanik Sudaryati Deyang selaku Wakil Kepala BGN Bidang Komunikasi Publik dan Investigasi sebagai keynote speaker untuk membahas penguatan program Makan Bergizi Gratis (MBG), khususnya dalam aspek implementasi, evaluasi, serta kolaborasi lintas sektor.
Dalam pemaparannya, ia menegaskan bahwa mahasiswa perlu memahami program MBG secara utuh dan objektif agar tidak muncul anggapan negatif yang keliru. Menurutnya, program ini lahir dari kepedulian terhadap pemenuhan hak dasar anak-anak sehingga substansinya perlu dijaga dengan baik.
Ia juga mengingatkan agar kritik diarahkan pada pelaksanaan di lapangan, bukan pada programnya secara keseluruhan. Evaluasi tetap diperlukan agar implementasi berjalan sesuai tujuan dan tidak menyimpang dari konsep awal yang telah dirancang.
Lebih lanjut, ia menekankan pentingnya peran perguruan tinggi dalam memberikan kontribusi pemikiran yang rasional dan berbasis kajian ilmiah. Keterlibatan akademisi dinilai mampu memperkuat arah kebijakan sekaligus menyempurnakan pelaksanaan program di lapangan.
“Saya ingin dari Timur, Universitas Hasanuddin mempelopori pemikiran yang rasional tentang program MBG,” katanya.
Ia menyoroti masih adanya ketimpangan dalam pelaksanaan program, terutama di wilayah tertinggal, terdepan, dan terluar (3T) yang belum sepenuhnya terjangkau. Selain itu, ia mendorong peran Unhas, khususnya dalam bidang penelitian dan investigasi, untuk mendukung evaluasi program secara berkelanjutan dengan memanfaatkan fasilitas laboratorium dan sumber daya yang ada, terutama di kawasan Indonesia Timur.
Ia juga menekankan pentingnya standardisasi menu dan kualitas makanan dalam program SPPG agar tetap terjaga. Hingga 28 April, jumlah dapur SPPG tercatat telah mencapai 27.735 unit yang menunjukkan perkembangan signifikan, meski implementasinya masih perlu diperkuat agar manfaatnya dapat dirasakan secara maksimal.
“Saya berharap Unhas nantinya menjadi pusat pengembangan produk bahan baku penyedia MBG di Indonesia Timur,” ujarnya.
Ia menambahkan bahwa pelaksanaan program SPPG harus melibatkan berbagai pihak, seperti koperasi, petani, UMKM, dan peternak secara langsung, serta mendorong penguatan usaha desa agar menjadi bagian dari ekosistem program yang berkelanjutan dan berdampak luas.
Fadiah Nadhilah Irhad
