slide-2-seminar-fib-1024x819 Unhas Gelar Kolaborasi Pakar Global, Kaji Manuskrip dan Sejarah Warisan Budaya Nusantara
sumber: dokumentasipribadiebsfmunhas

Makassar, EBS FM Unhas — Universitas Hasanuddin (Unhas) melalui Fakultas Ilmu Budaya (FIB) bersama Universitas Airlangga, Universitas Andalas, Universitas Sumatera Utara, serta Universiti Malaysia Kelantan (UMK) menyelenggarakan International Seminar: Reclaiming the Soul: History, Manuscript, and the Future of Indonesian Cultural Heritage” pada Kamis—Jumat, (21—22/5) di Gedung LPPM Universitas Hasanuddin. 

Kegiatan ini merupakan forum akademik internasional yang mempertemukan para ahli dari berbagai negara untuk membahas keterkaitan antara sejarah, studi manuskrip, warisan budaya, dan provenance research. Seminar ini menyoroti pentingnya pendekatan interdisipliner dalam memahami perjalanan panjang budaya Nusantara dalam konteks global. 

Forum akademik ini diisi oleh deretan pakar lintas negara dan disiplin ilmu, diantaranya Dirjen Perlindungan Kebudayaan dan Tradisi Kemenbud: Restu Gunawan, akademisi UGM: Sri Margana, serta kurator British Library: Dr. Annabel Teh Gallop. Selain itu, turut hadir pakar dari Vietnam, Belanda, Filipina, Malaysia, serta akademisi Unhas. Kegiatan ini juga didukung oleh berbagai organisasi mitra, seperti Perkumpulan Program Studi Sejarah se-Indonesia (PPSI), Perkumpulan Praktisi Profesi Kesejarahan (P3K), Masyarakat Pernaskahan Nusantara (MANASSA), serta Makassar Heritage Society (MAHESTY), yang turut memperkuat ekosistem kajian sejarah dan budaya di Indonesia. 

Fokus pembahasannya menyoroti bagaimana keterbatasan kajian sejarah, filologi, studi manuskrip, dan provenance research di Nusantara. Diskusi akademik ini menekankan pentingnya membaca ulang sejarah melalui objek budaya, manuskrip, serta jejak kolonial yang membentuk distribusi warisan budaya saat ini. Lebih jauh lagi, diskusi ini turut mengangkat isu-isu penting seperti repatriasi, keadilan sejarah, museumisasi kolonial, hingga revitalisasi fungsi sosial-spiritual warisan budaya di masyarakat asalnya. 

Dengan menggunakan pendekatan mikrohistori, setiap objek budaya dipahami bukan sekadar artefak, melainkan saksi perjalanan panjang identitas dan kekuasaan. Kolaborasi lintas universitas dan negara ini diharapkan mampu memperkuat riset, publikasi ilmiah, serta jaringan akademik global dalam studi warisan budaya Nusantara.

Melani Pratiwi Palajukan