hi-1-1024x768 CSIS dan Unhas Soroti Strategi Kebijakan Luar Negeri Indonesia di Era Rivalitas Global 
sumber: dokumentasipribadiebsfmunhas

Makassar, EBS FM UnhasCentre for Strategic and International Studies (CSIS) Indonesia bekerja sama dengan Departemen Ilmu Hubungan Internasional (HI) Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik (FISIP) Universitas Hasanuddin (Unhas) menggelar seminar publik bertajuk “Menata Kebijakan Luar Negeri Indonesia dalam Menghadapi Era Rivalitas Antarkekuatan Besar” di Aula LPPM Universitas Hasanuddin, Makassar, Selasa (19/5). 

Kegiatan ini menghadirkan para akademisi dan mahasiswa untuk mendiskusikan arah kebijakan luar negeri Indonesia di tengah dinamika geopolitik global yang semakin kompleks. Seminar ini diisi oleh dua narasumber utama, yakni Andrew Mantong dan Pieter Pandie, peneliti dari Departemen Hubungan Internasional, CSIS Indonesia. Turut hadir sebagai pembahas, yaitu Agussalim Burhanuddin dan Pusparida Syahdan, dosen Ilmu Hubungan Internasional FISIP Unhas.

Kegiatan ini dilatarbelakangi oleh perubahan politik domestik dan internasional yang dinilai semakin transformatif. Indonesia saat ini menghadapi tantangan berupa perubahan pola pembuatan kebijakan luar negeri, restrukturisasi kelembagaan pemerintahan, hingga perubahan hubungan antara pembuat kebijakan dan masyarakat. Di sisi lain, meningkatnya rivalitas antara Amerika Serikat dan Tiongkok serta melemahnya komitmen multilateralisme turut menciptakan lingkungan global yang semakin tidak pasti.

Dalam seminar tersebut, para narasumber membahas posisi Indonesia sebagai emerging middle power yang memiliki potensi besar untuk berkontribusi dalam membentuk tatanan regional dan global. Namun demikian, Indonesia dinilai masih menghadapi sejumlah tantangan, mulai dari keterbatasan kapasitas kelembagaan, sumber daya diplomatik, hingga belum optimalnya koordinasi lintas lembaga dalam merumuskan kebijakan luar negeri yang responsif dan strategis.

Diskusi ini juga menyoroti pentingnya peran Indonesia sebagai active balancer di kawasan Indo-Pasifik di tengah meningkatnya persaingan geopolitik dan geoekonomi antara kekuatan besar dunia. Dalam hal ini, kebijakan luar negeri Indonesia dinilai perlu menjadi lebih koheren, adaptif, dan dipandu oleh visi strategis yang jelas agar mampu menjaga kepentingan nasional sekaligus memperkuat posisi Indonesia di mata mitra internasional.

Seminar publik ini juga turut menjadi bagian dari diseminasi monograf CSIS Indonesia, “Recalibrating Indonesia’s Foreign Policy: Internal Reform and Strategic Realignment in a Changing World Order.” Monograf tersebut membahas reformasi kelembagaan, strategi kawasan, serta langkah-langkah penguatan pengaruh diplomatik Indonesia, termasuk penguatan sentralitas ASEAN, pengelolaan rivalitas Amerika Serikat dan Tiongkok, serta peningkatan hubungan dengan kekuatan baru seperti India dan negara-negara Teluk.

Melalui kegiatan ini, CSIS Indonesia dan Universitas Hasanuddin berharap dapat memperluas diskursus publik mengenai kebijakan luar negeri Indonesia, sekaligus mendorong dialog kritis di kalangan akademisi dan mahasiswa terkait peran strategis Indonesia dalam menghadapi perubahan tatanan dunia yang terus berkembang.

Melani Pratiwi Palajukan