Makassar, EBS FM Unhas — Kepala Badan Gizi Nasional (BGN), Prof. Dadan Hindayana, dalam U25 Leaders Forum Rektor PTN-BH yang berlangsung di Unhas Hotel & Convention, Selasa (28/4), menekankan bahwa program Makan Bergizi Gratis (MBG) menjadi langkah strategis dalam memperkuat kualitas sumber daya manusia di Indonesia. Menurutnya, persoalan gizi tidak hanya berkaitan dengan kesehatan, tetapi juga menentukan kecerdasan dan produktivitas generasi mendatang.
Ia menjelaskan bahwa saat ini terdapat 24 PTN-BH yang memiliki otonomi, terutama dalam pengelolaan keuangan. Otonomi tersebut dapat dimanfaatkan untuk pengembangan keilmuan, riset, serta peningkatan kualitas sumber daya manusia. Perguruan tinggi juga didorong untuk berperan aktif dalam mendukung program strategis nasional, termasuk di bidang gizi.
Apresiasi turut disampaikan kepada Universitas Hasanuddin sebagai satu-satunya PTN-BH dari kawasan timur Indonesia yang dinilai memiliki semangat kuat. Selain itu, Unhas disebut sebagai salah satu perguruan tinggi yang telah memiliki Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG). Kehadiran SPPG di lingkungan kampus dinilai menjadi langkah konkret dalam mendukung implementasi program MBG.
Program pemenuhan gizi disebut sebagai langkah strategis bagi masa depan bangsa. Indonesia masih mengalami pertumbuhan penduduk yang cukup tinggi, yakni sekitar enam orang per menit atau tiga juta per tahun. Bahkan, jumlah penduduk diproyeksikan mencapai 324 juta jiwa pada tahun 2045. Kondisi ini menuntut kesiapan kualitas sumber daya manusia yang lebih baik.
Ia menilai bahwa persoalan utama bukan hanya pada jumlah penduduk, tetapi juga pada latar belakang keluarga tempat anak-anak tumbuh. Rata-rata tingkat pendidikan masyarakat Indonesia masih berada pada jenjang sembilan tahun atau setara SMP. Sementara itu, jumlah masyarakat yang menempuh pendidikan tinggi tidak lebih dari 15 persen, dan di Sulawesi Selatan angkanya sekitar 8,7 persen.
“Sekitar 60 persen anak kita belum memiliki akses terhadap menu gizi seimbang. Bahkan, banyak anak yang baru mengonsumsi susu ketika ada program bantuan karena keterbatasan ekonomi,” ungkapnya.
Program ini menyasar anak sejak dalam kandungan hingga usia 18 tahun dengan fokus pada 1.000 hari pertama kehidupan sebagai fase krusial. Tanpa asupan gizi seimbang, potensi genetik anak tidak berkembang optimal dan berisiko stunting. Selain itu, terdapat dua fase kritis, yakni 1.000 hari pertama kehidupan serta usia 8 hingga 18 tahun sebagai masa pertumbuhan fisik.
Ia menekankan bahwa intervensi gizi sejak dalam kandungan perlu dilakukan agar dalam lima hingga sepuluh tahun ke depan kualitas kecerdasan generasi dapat meningkat. Selain itu, keterlibatan perguruan tinggi dinilai menjadi faktor penting dalam memperluas jangkauan program, dimulai dari lingkungan kampus hingga ke daerah secara bertahap.
“Saya menantikan keterlibatan seluruh perguruan tinggi. Mungkin bisa dimulai dari lingkungan kampus terlebih dahulu, kemudian jika sudah berjalan dengan baik dapat diperluas. Universitas Hasanuddin diharapkan minimal dapat memiliki satu SPPG di setiap kabupaten. Hal ini juga berpotensi menjadi sumber pendapatan bagi perguruan tinggi,” harapnya.
Fadiah Nadhilah Irhad
