Sumber:ebsfmunhas

Editor Hervin Al Jumari

Akademia Makassar—Yayasan Arsari Djojohadikusumo (YAD) telah bermitra dan menjalin kerja sama dengan perguruan tinggi sejak tahun 2014, bermula dari kegiatan penelitian bersama antar empat departemen Fakultas Ilmu Budaya (FIB) yang ada di Indonesia, termasuk sekarang Departemen Arkeologi Fakultas Ilmu Budaya (FIB) Universitas Hasanuddin. Perjanjian kerja sama dengan Departemen Arkeologi Unhas telah dilaksanakan di Auditorium Prof. A. Amiruddin FK Unhas. Selasa, (20/02). 

Pada acara yang dirangkaikan pula dengan “Dialog Kebangsaan” bersama Menteri Pertanian Andi Amran Sulaiman dan didampingi oleh Ketua Majelis Wali Amanat dan Wali Kota Makassar. Perjanjian kerja sama ini ditandatangani langsung oleh anak Ketua Yayasan Arsari Djojohadikusumo (YAD) Indrwati Hashim S. Djojohadikusumo dan Dekan Fakultas Ilmu Budaya (FIB) Unhas Prof. Dr. Akin Duli, M.A. 

Kerja sama tersebut Fakultas Ilmu Budaya (FIB) Universitas Hasanuddin akan memfasilitasi YAD dalam kegiatan pelestarian kebudayaan Indonesia berupa ruang pembelajaran Mandala Majapahit yang berisi koleksi artefak hasil penggalian arkeologis di situs Trowulan bekas Ibukota Majapahit di Jawa Timur. 

“Ruang lingkup Perjanjian Kerja Sama (PKS) ini antara lain bantuan beasiswa bagi tenaga pendidik, calon tenaga pendidik, mahasiswa S2, dan mahasiswa S1, bantuan pelestarian kebudayaan Indonesia, dan peningkatan kapasitas SDM melalui program magang dan pengembangan SDM melalui hilirisasi kepakaran,” tutur Hashim. 

Berlanjut ke sesi tanya jawab. Ketua Komisi II Senat Akademik Unhas Prof. Dr. Fathu Rahman, M.hum. Menyinggung kembali persoalan terkait kebudayaan yang penting untuk dijaga dengan perkembangan yang terus menerus. Saat ini dapat dilihat masalah kebudayaan di satu sisi dinyatakan penting tetapi kenyataannya masalah kebudayaan ini selalu ditempatkan sebagai posisi sampiran pelengkap. Contohnya di Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan, hanya pendidikannya yang diperhatikan, program kebudayaannya tidak. Kemudian menteri pariwisata dan kebudayaannya, pariwisata yang digembar-gembor, kebudayaannya dijadikan alat untuk mengumpul pariwisata. Jadi misalnya ditingkat provinsi begitu tidak dianggap penting kebudayaan di satu sisi maka mulai digabung-gabung. 

“Harapan besar kami, apakah mungkin kementerian kebudayaan ini menjadi berdiri sendiri. Jika kemudian harapan ini direalisasikan dan mencari staff, cari saja di Unhas,” kata Prof. Dr. Fathu Rahman, M.hum. 

Harapan ini direspons baik oleh Hasyim yang mengatakan bahwa kelak kementerian kebudayaan akan berdiri terpisah seperti di luar negeri. Warisan budaya Indonesia sangat baik seperti koleksi perwayangan tetapi sayangnya dikesampingkan. Dalang-dalang susah mencari penghasilan karena banyak generasi muda sekarang lebih memilih media-media untuk dijadikan tontonan. Bukan hanya itu generasi sekarang atau disebut gen-z lebih senang dengan produk luar sehingga tujuan pemerintah nantinya akan memperkuat kearifan lokal.