Makassar, EBS FM Unhas — Lembaga Departemen Hukum, Masyarakat, dan Pembangunan (LETS-Institute) Fakultas Hukum Universitas Hasanuddin menggelar kegiatan nonton bareng film dokumenter “Pesta Babi” di Kopi Hub, Kamis (30/4). Kegiatan ini tidak hanya menjadi ajang hiburan, tetapi juga bentuk kepedulian sosial dan akademik terhadap isu lingkungan dan hak asasi manusia. Selain itu, kegiatan ini mendorong mahasiswa lebih peka terhadap realitas kehidupan masyarakat adat Papua yang bergantung pada hutan sebagai sumber hidup dan identitas budaya.
Film “Pesta Babi” menampilkan realitas kehidupan masyarakat adat Papua dengan visual lanskap alam yang kuat. Hutan lebat, keanekaragaman hayati, serta kekayaan sumber daya alam ditampilkan secara detail dan estetis. Representasi ini sekaligus memperlihatkan kekhasan budaya lokal yang masih terjaga hingga kini.
Di balik keindahan visualnya, film ini mengangkat persoalan serius, seperti deforestasi dan pembongkaran tanah adat di Papua. Film ini juga menyoroti dampak proyek industri dan Proyek Strategis Nasional (PSN) terhadap kehidupan masyarakat lokal. Realitas tersebut menunjukkan tekanan yang dihadapi masyarakat adat dalam mempertahankan ruang hidupnya.
“Setelah menonton film ini, kita jadi menyadari bahwa mungkin bagi sebagian orang, hutan bukan hal penting. Namun, bagi masyarakat Papua, hutan adalah ibu,” ujar Naurah, salah satu penonton.
Film tersebut menggambarkan ancaman terhadap keberlangsungan hidup masyarakat adat sekaligus menunjukkan kesenjangan antara kebijakan pembangunan dan kondisi nyata di lapangan. Dampak yang ditimbulkan tidak hanya menyentuh aspek lingkungan, tetapi juga sosial dan budaya. Hal ini memperlihatkan kompleksitas persoalan yang dihadapi masyarakat lokal.
Bagi masyarakat adat Papua, tanah dan hutan bukan sekadar sumber kehidupan, melainkan bagian dari identitas dan warisan leluhur. Dari hutan, mereka bertahan hidup, mencari nafkah, dan menjaga keberlanjutan generasi. Papua yang dikenal sebagai “surga terakhir” pun menjadi wilayah yang perlu dijaga kelestariannya di tengah arus pembangunan.
Selain sebagai ruang diskusi, kegiatan ini juga menjadi bentuk apresiasi terhadap tim produksi film. Kegiatan ini sekaligus menghadirkan perspektif kritis di kalangan mahasiswa terhadap isu-isu sosial. LETS-Institute berharap kegiatan serupa dapat terus dilakukan untuk memperkuat peran akademik dalam merespons berbagai persoalan di masyarakat.
Nabila Fatimah Azzahra
