Makassar, EBS FM Unhas — Menteri Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi (Mendiktisaintek), Prof. Brian Yuliarto, dalam U25 Leaders Forum Rektor PTN-BH yang berlangsung di Unhas Hotel & Convention pada Selasa (28/4), menegaskan bahwa penguatan ketahanan pangan dan gizi menjadi fondasi utama pembangunan sumber daya manusia. Forum yang diikuti oleh para rektor dari 24 PTN-BH di Indonesia ini membahas peran strategis perguruan tinggi dalam menjawab tantangan tersebut. Ia menekankan bahwa kolaborasi dan inovasi menjadi kunci dalam memperkuat kontribusi nyata kampus bagi masyarakat.

Menurutnya, kualitas pendidikan tinggi tidak dapat dilepaskan dari kualitas sumber daya manusia yang dihasilkan. Para rektor PTN-BH dinilai sebagai lokomotif perubahan yang diharapkan mampu mendorong pertumbuhan ekonomi sekaligus mencetak SDM unggul. Oleh karena itu, peran kampus tidak hanya terbatas pada pendidikan, tetapi juga pada kontribusi nyata bagi pembangunan nasional.

“Kalau kita bicara inovasi dan daya saing global, kita juga sedang berbicara tentang apa yang hadir di meja makan anak-anak kita hari ini. Pemenuhan gizi sejak dini adalah investasi besar bagi masa depan bangsa,” ujarnya.

Ia menambahkan bahwa persoalan gizi tidak boleh dipandang sebagai beban pengeluaran negara semata. Sebaliknya, hal tersebut harus dilihat sebagai investasi strategis dalam membangun generasi yang sehat, cerdas, dan produktif. Dengan fondasi gizi yang kuat, kualitas SDM Indonesia di masa depan diyakini akan semakin kompetitif.

“Perguruan tinggi jangan hanya mengomentari, tetapi harus hadir menjadi bagian dari kekuatan bangsa. Kita memiliki riset, tenaga ahli, laboratorium, dan mahasiswa yang dapat digerakkan untuk mendukung program nasional,” tegasnya.

Lebih lanjut, ia menyoroti pentingnya program Makan Bergizi Gratis (MBG) sebagai agenda prioritas nasional. Program ini bertujuan memastikan seluruh anak Indonesia, baik di perkotaan maupun daerah terpencil, mendapatkan akses gizi yang layak. Ia juga menyebut bahwa program ini dapat mendorong perputaran ekonomi, khususnya di sektor pangan.

Dalam implementasinya, perguruan tinggi diharapkan terlibat aktif melalui pengembangan Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG). Selain sebagai pusat layanan gizi, SPPG juga dapat dimanfaatkan sebagai laboratorium penelitian dan pengabdian kepada masyarakat. Keterlibatan ini diharapkan mampu memperkuat sinergi antara dunia akademik dan kebutuhan masyarakat.

Mahasiswa juga memiliki peran penting melalui kegiatan KKN, magang, serta edukasi gizi di masyarakat. Mereka dapat terlibat dalam pendampingan UMKM, pemetaan kebutuhan bahan baku, hingga pemantauan program. Dengan demikian, kampus tidak hanya menjadi pusat ilmu, tetapi juga motor penggerak perubahan sosial.

“Masa depan sedang kita bentuk hari ini melalui apa yang anak-anak bangsa kita makan, melalui apa yang kita kerjakan, dan melalui keberanian untuk berkolaborasi. Jika kampus bergerak dan kita bergerak bersama, maka program unggulan tidak hanya akan berhasil, tetapi juga melahirkan generasi Indonesia yang lebih sehat, lebih cerdas, dan tentunya lebih kuat,” tutupnya.

Fadiah Nadhilah Irhad