Makassar, EBS FM Unhas — Miklos Sunario, Co-Founder dan CEO Futurity, menegaskan bahwa kedaulatan kecerdasan buatan (AI) merupakan isu krusial yang harus menjadi perhatian Indonesia pada era digital saat ini. Hal tersebut ia sampaikan dalam Kuliah Umum PIMNAS 38 yang berlangsung di Aula Prof. A. Amiruddin, Fakultas Kedokteran Universitas Hasanuddin (Unhas), Rabu (26/7).
“Kedaulatan AI Indonesia adalah kemampuan Indonesia untuk mengendalikan dan memanfaatkan sepenuhnya AI itu sendiri,” ujarnya.
Dalam pemaparannya, Miklos menjelaskan beberapa langkah strategis agar Indonesia dapat berkembang menjadi negara yang berdaulat dalam bidang AI. Pertama, mengintegrasikan data nasional, yakni menyambungkan seluruh data pemerintah dan masyarakat yang selama ini tersebar di berbagai platform. Kedua, mengembangkan ekonomi AI lokal bernilai triliunan dolar. Ketiga, menciptakan lapangan kerja berbasis AI yang dapat menjadi peluang besar bagi generasi muda Indonesia.
Ia juga memaparkan empat pilar utama yang harus dibangun untuk mewujudkan kedaulatan AI Indonesia:
• Sovereign Compute – Infrastruktur komputasi nasional yang kuat dan mandiri untuk memproses data serta melatih model AI secara lokal.
• Sovereign Data – Data Indonesia yang dikelola, dilindungi, dan dimanfaatkan sepenuhnya untuk kepentingan rakyat Indonesia.
• Sovereign Talent – Ekosistem talenta AI lokal yang kompetitif, terlatih, dan siap membangun masa depan teknologi Indonesia.
• Sovereign Innovation – Inovasi AI yang lahir dari kebutuhan Indonesia, diciptakan untuk menyelesaikan persoalan bangsa oleh putra-putri bangsa sendiri.
Menutup pemaparannya, Miklos menegaskan bahwa mewujudkan kedaulatan AI bukanlah hal yang mustahil. Indonesia memiliki banyak potensi untuk mencapainya: bonus demografi dengan jutaan talenta muda, pasar digital yang sangat dinamis di Asia Tenggara, masyarakat yang adaptif terhadap perubahan, serta penetrasi gawai pintar yang mencapai hampir 80 persen sehingga menjadikan Indonesia sebagai negara yang digital-first dan siap mengadopsi teknologi baru.
Muhammad Ghiyas Gaspah
