Makassar, EBS FM Unhas — Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas Hasanuddin (FISIP Unhas) menggelar dialog publik dan pemaparan visi-misi bakal calon dekan FISIP Unhas periode 2026–2030 di Gedung IPTEKS Unhas, Kamis (16/4). Dalam kesempatan tersebut, salah satu bakal calon dekan nomor urut satu, Prof. Dr. Hasniati, menyampaikan bahwa dirinya telah mengundurkan diri sejak rapat senat sebelumnya. Meski demikian, ia tetap mengikuti kegiatan dan hadir untuk menyampaikan harapan kepada dekan terpilih nantinya.
Dalam forum tersebut, Prof. Hasniati menegaskan kehadirannya bukan lagi untuk memaparkan visi dan misi, melainkan untuk menyampaikan harapan kepada dekan terpilih. Ia juga mengimbau pihak yang sebelumnya berencana memilih dirinya agar mengalihkan dukungan kepada tiga calon lainnya.
“Saya hadir di sini bukan lagi menyampaikan visi misi, tetapi harapan saya. Harapan saya kepada calon dekan apabila menjadi dekan nantinya,” ujar Prof. Hasniati.
Pada bidang akademik, ia menyoroti kendala mahasiswa, khususnya semester lima, dalam memperoleh tempat magang guna memenuhi beban 20 SKS melalui program MBKM. Menurutnya, FISIP Unhas memiliki banyak kerja sama yang belum dikelola secara optimal sehingga diharapkan dekan terpilih dapat memfasilitasi kebutuhan tersebut dengan lebih baik.
Di bidang kemahasiswaan, Prof. Hasniati mengapresiasi capaian mahasiswa FISIP Unhas yang konsisten berada di lima besar tingkat universitas. Ia mengusulkan adanya manajer kemahasiswaan yang secara khusus menangani pengembangan talenta dan prestasi sehingga fakultas dapat lebih siap dalam menghadapi berbagai kompetisi.
Selain itu, ia juga menyoroti persoalan sarana dan prasarana, khususnya gedung tujuh lantai yang hingga kini belum difungsikan secara optimal, meski telah hampir dua tahun selesai dibangun. Ia berharap fasilitas tersebut dapat segera digunakan, mengingat masih adanya kendala seperti kerusakan lift yang menghambat aktivitas perkuliahan.
Terakhir, Prof. Hasniati menekankan pentingnya peningkatan kesejahteraan dosen dan tenaga kependidikan, termasuk pemberian penghargaan bagi mereka yang purnabakti. Ia juga mengusulkan adanya standar honor bagi program pascasarjana serta pemberian penghargaan bagi dosen yang berhasil membimbing mahasiswa hingga publikasi jurnal bereputasi internasional, seperti Scopus Q1 dan Q2.
Fadiah Nadhilah Irhad
