FB_IMG_1767611982666-774x1024 Respons Dunia Terbelah Menyusul Penangkapan Presiden Venezuela oleh AS
sumber: X @realDonaldTrump

Makassar, EBS FM Unhas – Aksi militer Amerika Serikat (AS) yang menyerang dan menangkap Presiden Venezuela, Nicolás Maduro, pada Sabtu (3/1/2026) di wilayah kedaulatannya mengejutkan komunitas internasional. Maduro yang dibawa ke AS untuk menjalani proses hukum, memicu ketegangan global dan memunculkan reaksi beragam dari berbagai negara. Peristiwa ini menyorot isu kedaulatan Venezuela sekaligus memperlihatkan perpecahan dunia, di mana sebagian pihak menilai tindakan AS sebagai upaya pemulihan demokrasi, sementara sebagian lain mengecamnya sebagai pelanggaran hukum internasional.

Dilansir dari BBC News Indonesia, beberapa negara menolak keras tindakan AS. Malaysia menegaskan menolak campur tangan asing dalam urusan negara lain, termasuk ancaman atau penggunaan kekuatan. China menyatakan terkejut dan mengecam penggunaan kekuatan oleh AS serta menekankan kepatuhan terhadap hukum internasional. Rusia menyerukan agar AS mempertimbangkan kembali posisinya dan mendorong dialog dengan Venezuela, sementara PBB memperingatkan preseden berbahaya dan menekankan pentingnya penghormatan terhadap hukum internasional.

Di sisi lain, beberapa negara menunjukkan dukungan terhadap berakhirnya rezim Maduro. Jepang menawarkan dukungan untuk pemulihan demokrasi dan stabilisasi situasi di Venezuela. Inggris menyatakan tidak menyesali jatuhnya rezim Maduro, meski tidak menilai apakah tindakan militer AS melanggar hukum internasional. Argentina, melalui Presiden Javier Milei, mendukung transisi pemerintahan baru dan menekankan posisi tegas antara kebaikan dan kejahatan.

Respons dari Amerika Latin lainnya juga beragam. Brasil menilai tindakan AS sebagai pelanggaran serius terhadap kedaulatan Venezuela, dan Uruguay memantau situasi dengan penuh perhatian sambil menolak intervensi militer. Prancis mendorong kandidat oposisi Maduro pada 2024, Edmundo González, memimpin transisi yang damai dan demokratis, sedangkan Jerman masih mengevaluasi apakah tindakan AS melanggar hukum internasional meski menyebut rezim Maduro telah membawa negaranya menuju kehancuran.

Perpecahan respons global ini menyorot ketegangan antara kepentingan menjaga kedaulatan negara dan dorongan internasional untuk transisi demokrasi di Venezuela. Gelombang tanggapan dari berbagai negara menegaskan bahwa dunia kini menghadapi dilema antara menegakkan hukum internasional dan mendukung perubahan politik yang dianggap sah oleh sebagian pihak.

Fadiah Nadhilah Irhad