Makassar, EBS FM Unhas — Nilai tukar rupiah kembali melemah 37 poin atau 0,21 persen menjadi Rp17.743 per dolar Amerika Serikat (AS) pada Rabu (20/5), dari sebelumnya Rp17.706 per dolar AS. Pelemahan ini dipengaruhi menguatnya dolar AS akibat konflik di Timur Tengah, sikap hawkish bank sentral AS The Fed, serta meningkatnya permintaan valuta asing di dalam negeri.
Gubernur Bank Indonesia Perry Warjiyo menjelaskan bahwa penguatan dolar AS dipicu memburuknya kondisi ekonomi global akibat perang di Timur Tengah. Konflik tersebut menyebabkan gangguan produksi, distribusi, dan rantai pasok perdagangan antarnegara. Penutupan Selat Hormuz juga mendorong lonjakan harga minyak dunia dan berbagai komoditas lainnya.
“Perkembangan ini mengakibatkan prospek pertumbuhan ekonomi dunia tahun 2026 diperkirakan akan lebih rendah menjadi sebesar 3,0 persen dan tekanan inflasi global meningkat menjadi sekitar 4,3 persen,” ujar Perry dalam konferensi pers Rapat Dewan Gubernur Bank Indonesia, Rabu, 20 Mei 2026.
Kondisi global yang memburuk membuat kebijakan moneter sejumlah negara menjadi lebih ketat. Perry menyebut suku bunga acuan AS atau Fed Funds Rate diperkirakan tidak akan turun hingga akhir 2026, bahkan berpotensi naik pada 2027 karena inflasi AS masih tinggi. Di sisi lain, imbal hasil obligasi AS tenor 10 tahun juga naik hingga 4,67 persen sehingga membuat aset dolar AS semakin menarik bagi investor global.
“Di pasar keuangan global, memburuknya kondisi global tersebut mendorong berlanjutnya pelarian modal keluar dari berbagai negara, termasuk negara emerging markets, ke aset yang memberikan imbal hasil tinggi dan aman, khususnya obligasi AS,” tutur Perry. Ia menambahkan kondisi tersebut memperkuat indeks dolar AS dan menekan mata uang negara maju maupun negara berkembang, termasuk rupiah.
Dari dalam negeri, pelemahan rupiah juga dipengaruhi meningkatnya permintaan valuta asing pada triwulan II 2026. Kebutuhan pembayaran dividen perusahaan dan utang luar negeri membuat permintaan dolar AS meningkat cukup tinggi. Selain itu, pasar juga menunggu keputusan suku bunga Bank Indonesia periode Mei 2026 yang diperkirakan naik 25 basis poin menjadi 5,00 persen untuk menjaga stabilitas rupiah.
Tekanan terhadap rupiah turut berdampak pada pasar keuangan domestik. Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) sempat turun 3,46 persen akibat aksi jual investor setelah Morgan Stanley Capital International menghapus beberapa perusahaan dari indeksnya. Meski demikian, Bank Indonesia optimistis nilai tukar rupiah ke depan akan stabil dan cenderung menguat, didukung komitmen BI menjaga stabilitas serta prospek ekonomi Indonesia yang dinilai tetap baik.
Fadiah Nadhilah Irhad
