Makassar, EBS FM Unhas — Universitas Hasanuddin (Unhas) menutup rangkaian Bulan Keselamatan dan Kesehatan Kerja (K3) 2026 melalui Seminar Nasional K3 yang digelar di Ballroom Unhas Hotel and Convention, Rabu (11/2). Kegiatan ini menjadi penutup program Bulan K3 yang berlangsung sejak 12 Januari hingga 12 Februari 2026. Mengangkat tema “Membangun Ekosistem Pengelolaan K3 Nasional yang Profesional, Andal, dan Kolaboratif”, seminar tersebut diikuti ratusan peserta dari berbagai fakultas dan unit kerja sebagai wujud penguatan budaya keselamatan di lingkungan kampus.
Seminar ini menghadirkan narasumber dari unsur pemerintah, akademisi, dan praktisi untuk membahas tantangan serta strategi penerapan K3 secara menyeluruh. Diskusi menekankan pentingnya kolaborasi lintas sektor agar sistem keselamatan dan kesehatan kerja dapat berjalan efektif, terstruktur, dan berkelanjutan di lingkungan pendidikan tinggi.
Kepala Dinas Tenaga Kerja dan Transmigrasi Provinsi Sulawesi Selatan, Dr. Jayadi Nas, S.Sos., M.Si., menegaskan bahwa keselamatan dan kesehatan kerja merupakan. Ia menambahkan pentingnya adaptasi teknologi dalam pengelolaan K3, termasuk melalui sistem digital untuk mempercepat pelaporan dan pemantauan risiko secara real time.
“Pemanfaatan teknologi digital menjadi langkah strategis dalam memperkuat sistem pengelolaan K3. Melalui digitalisasi, proses pelaporan dan pemantauan risiko dapat dilakukan secara real time sehingga lebih efektif, terukur, dan responsif terhadap berbagai potensi bahaya di lingkungan kerja maupun kampus,” tegas Dr. Jayadi Nas, S.Sos., M.Si.
Sementara itu, dr. M. Furqaan Naiem, M.Sc., Ph.D., dosen K3 Fakultas Kesehatan Masyarakat Unhas, mengingatkan bahwa potensi bahaya di kampus tidak hanya terdapat di laboratorium, tetapi juga pada instalasi listrik, bangunan, hingga ruang publik seperti kantin dan area bersama.
Ia menilai mutu penerapan K3 turut memengaruhi citra institusi karena aspek keamanan dan kenyamanan menjadi pertimbangan penting bagi masyarakat dalam memilih tempat belajar maupun bekerja. Oleh sebab itu, penerapan K3 harus dibangun sebagai budaya bersama yang lahir dari kesadaran, bukan sekadar kewajiban administratif.
Pandangan tersebut diperkuat oleh konsultan K3, Siti Nur Insani, S.T., yang menekankan bahwa keberhasilan sistem K3 sangat bergantung pada kompetensi sumber daya manusia.
Setiap potensi bahaya, baik fisik, kimia, biologi, ergonomi, maupun psikososial, memerlukan kemampuan identifikasi dan pengendalian yang tepat, disertai sikap kerja yang konsisten mengutamakan keselamatan dalam setiap aktivitas.
Fadiah Nadhilah Irhad
