
Makassar, EBS FM Unhas — Aliansi Mahasiswa Universitas Hasanuddin (Unhas) menggelar aksi demonstrasi di depan Gedung Rektorat Unhas, Kamis (11/6), sebagai bentuk penolakan terhadap komersialisasi pendidikan dan keberadaan Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) program Makan Bergizi Gratis (MBG) di lingkungan kampus Unhas.
Dalam aksi tersebut, para mahasiswa menilai kehadiran SPPG MBG belum memiliki penjelasan yang memadai terkait urgensi maupun manfaatnya bagi mahasiswa. Massa aksi juga mempertanyakan dasar kampus menerima program tersebut di tengah berbagai persoalan yang dinilai masih dihadapi mahasiswa.
Salah seorang peserta aksi, Andi (nama samaran), mengatakan tuntutan utama mahasiswa berfokus pada pencabutan SPPG MBG dari lingkungan kampus.
“Tuntutan kami hanya satu, cabut SPPG dari kampus. Jawaban yang diberikan pihak kampus sangat normatif dan sangat aman, karena tidak ada jawaban konkret kenapa hadir MBG di dalam kampus. Dalam artian tujuan ke mahasiswanya, orientasi kepada mahasiswa itu tidak diberikan secara gamblang, kenapa memang harus menerima proyek itu,” ujarnya.
Menurut Andi, penjelasan yang disampaikan pihak kampus melalui Humas Unhas belum menyentuh substansi yang menjadi pertanyaan mahasiswa. Meski kampus menyebut Unhas hanya berperan sebagai mitra dalam program tersebut, mahasiswa menilai masih ada pertanyaan mendasar yang belum terjawab.
“Jelas humas kampus tadi bilang ini merupakan mitra dan itu diberikan. Tetapi pertanyaannya, kalau kampus tahu bahwa ini diberikan, apa sebenarnya dalam penerimaan ini ada landasannya dalam kesejahteraan mahasiswa dan bagaimana kondisi mahasiswa itu sendiri?” katanya.
Mahasiswa juga membuka kemungkinan untuk kembali menggelar aksi lanjutan apabila pihak kampus belum memberikan penjelasan yang lebih rinci dan konkret. Mereka berharap kampus dapat menjelaskan tujuan, orientasi, serta manfaat program MBG bagi mahasiswa secara lebih terbuka.
Andi menilai keberadaan program tersebut perlu dikaji secara lebih mendalam, terutama jika dikaitkan dengan kondisi kesejahteraan mahasiswa dan kualitas layanan pendidikan di kampus. Ia juga menyoroti bertambahnya berbagai unit usaha di lingkungan Unhas yang dinilai belum memberikan dampak signifikan bagi mahasiswa.
“Kami usahakan tetap ada sampai memang dari kampus memberikan tanggapan yang lebih konkret. Kalau melihat anak usaha yang ada di Unhas yang totalnya sudah sampai puluhan, tidak berbanding lurus dengan kesejahteraan mahasiswa, mulai dari fasilitas dan bagaimana mutu pendidikan itu sendiri. Jadi menjadi pertanyaan besar sebenarnya kenapa anak usaha terus bertambah, tetapi fasilitas ataupun apa yang didapatkan mahasiswa tidak bertambah,” tuturnya.
Hingga aksi berakhir, mahasiswa menyatakan akan terus mengawal isu tersebut dan menunggu penjelasan lanjutan dari pihak kampus terkait keberadaan SPPG MBG di Unhas.
Fadiah Nadhilah Irhad
