Mahasiswa Unhas Berkarya Hadirkan Panrannuang Action, Perkuat Pemberdayaan Perempuan Pesisir di Takalar

Makassar, EBS FM Unhas — Tim Mahasiswa Unhas Berkarya (Mahakarya) Hertecta LETS Institute Fakultas Hukum Universitas Hasanuddin (Unhas) menyelenggarakan puncak program pengabdian kepada masyarakat melalui inovasi “Panrannuang Action: Improving Mindset sebagai Strategi Menekan Angka Pernikahan Dini serta Pemberdayaan Perempuan melalui Women Entrepreneurship” di Desa Bontokanang, Kecamatan Galesong Selatan, Kabupaten Takalar, Rabu (15/7). Program ini merupakan implementasi Tri Dharma Perguruan Tinggi yang berfokus pada pemberdayaan perempuan pesisir melalui edukasi hukum, penguatan pola pikir, serta pengembangan kewirausahaan berbasis potensi lokal.
Kegiatan tersebut merupakan rangkaian program yang telah dipersiapkan sejak April 2026. Panrannuang Action hadir sebagai respons terhadap tingginya angka pernikahan dini di wilayah pesisir yang dipengaruhi oleh faktor ekonomi, rendahnya tingkat pendidikan, serta minimnya kesadaran hukum masyarakat. Kondisi tersebut dinilai turut membatasi kesempatan perempuan dalam mengembangkan potensi diri sekaligus memperkuat kemandirian ekonomi keluarga.
Pelaksanaan program ini mendapat pendampingan dari dosen Fakultas Hukum Unhas, Rastiawaty, S.H., M.H., sejak tahap perencanaan hingga implementasi. Kegiatan ini turut dihadiri Ketua Tim PKK Desa Bontokanang, Eka Hasrianti, yang mewakili Kepala Desa Bontokanang, Muhammad Setiawan, S.IP., serta menghadirkan dua narasumber, yakni Dr. Andi Syahwiah A. Sapiddin, S.H., M.H. dan Tenriwali Ridha Rahmah, S.Psi., M.Psi., Psikolog, bersama masyarakat Desa Bontokanang sebagai peserta kegiatan.
Program Panrannuang Action dikemas melalui tiga rangkaian kegiatan yang saling terintegrasi. Sipakainge’ Class menghadirkan penyuluhan hukum mengenai batas usia perkawinan, risiko pernikahan dini, serta pentingnya pendidikan sebagai investasi masa depan. Selanjutnya, Sipakatau’ Class memberikan pelatihan improving mindset berbasis pendekatan mindfulness bagi perempuan yang menikah di usia dini untuk memperkuat kesadaran diri, kepercayaan diri, dan kemampuan mengambil keputusan. Rangkaian kegiatan ditutup melalui Sipakalebbi’ Lab, yaitu pelatihan women entrepreneurship yang membekali peserta dengan keterampilan mengolah hasil laut, khususnya cumi-cumi, menjadi produk bernilai tambah “Cumiko'”, mulai dari proses produksi, pengemasan, hingga strategi pemasaran.
Ketua Tim Mahakarya Hertecta, Nayla Salsabila Rismu, berharap program yang dijalankan tidak berhenti sebagai kegiatan seremonial semata, melainkan mampu memberikan dampak berkelanjutan bagi masyarakat. “Besar harapan kami agar ilmu, keterampilan, dan motivasi yang diberikan dapat menjadi bekal bagi perempuan pesisir untuk terus berkembang, meningkatkan kesejahteraan keluarga, serta menjadi bagian dari upaya bersama dalam mencegah terjadinya pernikahan dini,” ujarnya.
Melalui Panrannuang Action, Tim Mahakarya Hertecta berharap tercipta perubahan pola pikir masyarakat, meningkatnya kapasitas perempuan pesisir, serta tumbuhnya kemandirian ekonomi berbasis potensi lokal. Program ini juga diharapkan menjadi wujud nyata kontribusi mahasiswa Universitas Hasanuddin dalam menghadirkan solusi atas persoalan sosial melalui inovasi dan pengabdian yang berkelanjutan.
Melani Pratiwi Palajukan
107.7 FM