Kebutuhan Dasar Warga Sulsel Terganggu: Antrean Solar, Pemadaman Listrik, Krisis Air, hingga Kelangkaan LPG Bersubsidi

Makassar, EBS FM Unhas — Warga di sejumlah wilayah Sulawesi Selatan (Sulsel) menghadapi gangguan pada berbagai kebutuhan dasar dalam waktu yang berdekatan. Persoalan tersebut mulai dari antrean panjang solar bersubsidi, pemadaman listrik bergilir, krisis air bersih akibat musim kemarau, hingga sulitnya memperoleh LPG 3 kilogram (kg).
Kondisi tersebut terjadi di sejumlah wilayah dengan bentuk persoalan yang berbeda. Antrean kendaraan untuk memperoleh solar terjadi hampir di sejumlah Stasiun Pengisian Bahan Bakar Umum (SPBU) di Makassar dan sekitarnya. Pada saat yang sama, pemadaman listrik bergilir masih diberlakukan di sejumlah wilayah Makassar, sementara kekeringan membuat distribusi air bersih harus dilakukan menggunakan mobil tangki.
Antrean Solar di Sejumlah SPBU Kota Makassar dan Maros
Persoalan bahan bakar minyak (BBM) menjadi salah satu yang paling terlihat. Antrean kendaraan berbahan bakar diesel terjadi di sejumlah SPBU Makassar dan Maros dalam beberapa hari terakhir.
Di SPBU Jalan AP Pettarani, Makassar, antrean kendaraan pada Kamis (3/9) bahkan mencapai sekitar 450 meter hingga badan jalan. Antrean tersebut didominasi oleh truk dan bus yang membutuhkan solar untuk menjalankan aktivitas operasional. Para pengemudi mengaku harus menghabiskan waktu hingga berjam-jam untuk mendapatkan bahan bakar.
Antrean juga terlihat di sejumlah SPBU sepanjang Jl. Perintis Kemerdekaan hingga kawasan Daya. Pada Senin (7/9/2026), antrean truk terlihat sejak pagi dan sebagian merambat ke badan jalan. Kondisi tersebut bahkan sempat menyebabkan kemacetan di sekitar SPBU Pintu 2 Unhas.
ANTARA melaporkan antrean solar bersubsidi terjadi hampir setiap hari di Makassar dan Maros. Sejumlah truk bahkan terlihat membawa drum atau tangki kosong berkapasitas hingga 150–200 liter saat mengantre. Kondisi tersebut turut mendapat perhatian karena berpotensi mengganggu kelancaran distribusi barang dan jasa.
Pemadaman Listrik Bergilir di Makassar
Di tengah persoalan BBM, warga Makassar juga menghadapi pemadaman listrik bergilir. PLN Unit Induk Distribusi Sulawesi Selatan, Sulawesi Tenggara, dan Sulawesi Barat (UID Sulselrabar) memberlakukan pengaturan beban di sejumlah wilayah sistem kelistrikan Sulawesi Bagian Selatan.
Pemadaman dilakukan secara bertahap di sejumlah wilayah kerja Unit Layanan Pelanggan (ULP), termasuk Panakkukang, Mattoanging, Karebosi, dan Daya. Jadwal pemadaman berlangsung dari pagi hingga malam dengan waktu yang berbeda pada setiap wilayah.
Pihak PLN menjelaskan bahwa pemadaman ini berkaitan dengan pemeliharaan fasilitas kelistrikan dan pengaturan beban untuk menjaga kestabilan sistem. PLN juga menyebut penurunan debit air di sejumlah pembangkit listrik tenaga air akibat kemarau menjadi salah satu kondisi yang turut diperhatikan, meski pemadaman yang berlangsung saat itu disebut disebabkan pemeliharaan fasilitas.
Pada Sabtu (5/9), PLN menyatakan sistem kelistrikan Sulbagsel masih dalam proses pemulihan dan optimalisasi setelah salah satu unit PLTU Jeneponto berkapasitas 125 megawatt kembali beroperasi. Pemadaman tersebut berdampak langsung terhadap aktivitas rumah tangga, usaha, hingga kegiatan masyarakat yang bergantung pada pasokan listrik.
Puluhan Ribu Warga Terdampak Kekeringan
Berdasarkan laporan ANTARA yang merujuk pada data BPBD Kota Makassar per 5 Agustus 2026, tercatat sebanyak 47.252 jiwa dari 13.929 kepala keluarga terdampak kekeringan. Dampak tersebut tersebar di 6 kecamatan dan 27 kelurahan, yakni Ujung Tanah, Tallo, Biringkanaya, Tamalanrea, Panakkukang, dan Manggala.
Memasuki bulan September, BPBD Makassar mencatat permintaan bantuan air telah mencapai sekitar 50 titik. Warga di sejumlah kawasan terlihat mengantre sambil membawa jeriken, galon, dan wadah lainnya untuk memperoleh air dari mobil tangki pemerintah.
Di Kecamatan Tallo, persoalan air bahkan telah berlangsung cukup lama. Sejumlah warga sebelumnya mengaku hampir sebulan tidak memperoleh aliran air dan harus bergantung pada distribusi mobil tangki.
Kondisi kekeringan juga berdampak pada sumber air baku. Bendungan Lekopancing di Maros dilaporkan mengalami penurunan muka air hingga minus 160 sentimeter dari batas normal. Kondisi tersebut menyebabkan suplai air baku menuju PDAM Kota Makassar ikut menurun.
Pemerintah Kota Makassar merespons kondisi tersebut dengan memperkuat distribusi air bersih, pembangunan sumur bor, penambahan tandon, serta rencana pembangunan 18 titik Sistem Penyediaan Air Minum (SPAM).
Warga Kesulitan Mendapatkan LPG 3 Kg
Dalam sepekan terakhir, warga Makassar dan Gowa mengeluhkan sulitnya mendapatkan LPG bersubsidi. Warga mengaku harus berpindah dari satu tempat ke tempat lain untuk mencari LPG 3 kg. Kelangkaan tersebut juga disebut mendorong kenaikan harga di tingkat pengecer. LPG 3 kg yang biasanya diperoleh sekitar Rp21.000,00–22.000,00 per tabung dilaporkan dapat mencapai Rp30.000,00 ribu di sejumlah tempat pengecer.
Hingga saat ini, empat persoalan tersebut masih berlangsung dengan tingkat dan wilayah terdampak yang berbeda. Masyarakat diimbau untuk tetap mengikuti informasi resmi dari instansi terkait agar tidak terpengaruh oleh informasi yang belum terverifikasi.
Melani Pratiwi Palajukan
107.7 FM