ICM-Unhas Targetkan Kolaborasi Lintas Sektor dalam Pengembangan Mineral Kritis
Makassar, EBS FM Unhas — Direktur Eksekutif Global Research Institute Universitas Hasanuddin (Unhas), Prof. Adi Maulana, menekankan pentingnya kolaborasi antara pemerintah, industri, dan peneliti dalam mengembangkan Institute for Critical Mineral Universitas Hasanuddin (ICM-Unhas). Hal tersebut disampaikan dalam sambutannya pada Simposium Nasional Optimalisasi Peran ICM-Unhas di Ruang Senat Lantai 2 Gedung Rektorat Unhas, Senin (12/10).
ICM-Unhas dibentuk sebagai wadah untuk mempertemukan peneliti, pelaku industri, dan pengambil kebijakan dalam mendukung pengembangan serta hilirisasi mineral kritis di Indonesia. Adi mengungkapkan bahwa ICM-Unhas mulai dibentuk sekitar tiga bulan sebelum simposium berlangsung. Institut tersebut diarahkan untuk membangun kolaborasi lintas sektor dalam penelitian dan pengembangan teknologi mineral kritis.
Pemilihan Unhas sebagai lokasi pengembangan ICM didasarkan pada kedekatannya dengan potensi sumber daya mineral kritis di kawasan Indonesia Timur, termasuk logam tanah jarang (LTJ). Pengembangan institut tersebut juga memerlukan dukungan pemerintah dan industri agar penelitian dapat menjawab kebutuhan nyata di lapangan. Unhas telah menyiapkan lahan untuk pengembangan ICM serta menjajaki kerja sama dengan sejumlah pihak, termasuk Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN).
Simposium ini menyoroti potensi LTJ di Sulawesi Barat yang membutuhkan pengelolaan terarah dengan tetap memperhatikan keberlanjutan lingkungan. Unhas telah menjalin kesepakatan dengan Pemerintah Provinsi Sulawesi Barat untuk mengawal pengembangan potensi LTJ di wilayah tersebut. Menurut Adi, pengembangan sumber daya mineral perlu menerapkan prinsip green mining agar aktivitas pertambangan turut mempertimbangkan dampak lingkungan.
Melalui simposium nasional ini, diharapkan dapat dihasilkan rekomendasi yang menjadi dasar penentuan arah pengembangan ICM-Unhas. Forum ini melibatkan pemangku kepentingan dari sektor regulator, pemerintah, dan industri untuk menyelaraskan kebijakan, kebutuhan penelitian, serta prioritas pengembangan mineral kritis.
“Harapannya, simposium ini dapat menghasilkan beberapa rekomendasi yang nantinya menjadi dasar untuk menentukan arah pengembangan ICM-Unhas ke depan,” pungkasnya.
Fadiah Nadhilah Irhad
107.7 FM