slide-1-1024x576 Kepala Humas Unhas: SPPG Bukan Bentuk Komersialisasi Kampus
sumber: dokumentasipribadiebsfmunhas

Makassar, EBS FM Unhas — Kepala Bidang Hubungan Masyarakat (Humas) Universitas Hasanuddin (Unhas), Ishaq Rahman, membantah tudingan yang menyebut kehadiran Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) program Makan Bergizi Gratis (MBG) di Unhas sebagai bentuk komersialisasi pendidikan. Pernyataan itu disampaikan di depan Gedung Rektorat Unhas, Kamis (11/6), sebagai tanggapan atas aksi demonstrasi mahasiswa yang menolak keberadaan SPPG di lingkungan kampus Unhas.

Ishaq mengatakan salah satu kritik yang banyak beredar di media sosial adalah anggapan bahwa kampus menghadirkan program MBG untuk mencari keuntungan. Menurutnya, asumsi tersebut tidak tepat jika melihat sumber-sumber pendapatan yang selama ini dimiliki Unhas sebagai perguruan tinggi negeri berbadan hukum (PTN-BH).

“Unhas sebagai PTN-BH itu punya 21 unit usaha yang aktif dan produktif yang sumber pendapatannya jauh lebih besar kalau kita mau bicara soal komersialisasi. Jadi, MBG itu sama sekali bukan persoalan komersialisasi,” tegasnya.

Selain itu, Ishaq juga menepis anggapan bahwa keterlibatan kampus dalam program MBG merupakan bentuk pengingkaran terhadap mandat perguruan tinggi. Menurutnya, kampus memiliki tanggung jawab untuk terlibat dalam berbagai persoalan masyarakat dan mendukung program yang memberikan dampak sosial yang luas.

Ia menjelaskan bahwa partisipasi Unhas dalam program MBG merupakan bagian dari visi kampus berdampak yang selama ini diusung perguruan tinggi. Melalui program tersebut, kampus berupaya mengambil peran sebagai bagian dari masyarakat sekaligus mendukung berbagai agenda pembangunan yang dijalankan pemerintah.

“Kampus ini harus menjadi bagian dari masyarakat. Maka ini salah satu wujud partisipasi Unhas dan keterlibatan Unhas. Kita mengemban visi kampus berdampak, kampus yang menjadi bagian dari pemerintah dan menjadi bagian dari masyarakat,” ujarnya.

Menanggapi kritik terkait tata kelola dan dampak lingkungan dari operasional dapur MBG, Ishaq menegaskan bahwa aspek pengelolaan limbah telah menjadi perhatian sejak tahap perencanaan. Menurutnya, Unhas terlebih dahulu memastikan kesiapan instalasi pengolahan air limbah (IPAL) sebelum membangun fasilitas dapur program tersebut.

Ia menyebut kapasitas IPAL yang dimiliki Unhas mencapai 10 meter kubik, jauh di atas kebutuhan operasional dapur MBG yang diperkirakan hanya membutuhkan kapasitas sekitar tiga meter kubik. Hal itu, kata dia, dilakukan agar kampus dapat menjadi contoh dalam pengelolaan fasilitas yang memenuhi standar lingkungan.

Di Unhas, sebelum kita bangun dapurnya, yang kita pikir adalah IPAL-nya. Untuk kapasitas produksi seperti MBG, itu hanya membutuhkan IPAL tiga kubik, sementara IPAL Unhas punya 10 kubik. Karena kita ingin menunjukkan contoh yang baik,” katanya.

Terkait penggunaan anggaran, Ishaq menegaskan pembangunan dapur MBG tidak menggunakan anggaran yang dialokasikan untuk kebutuhan akademik maupun fasilitas mahasiswa. Ia mengatakan sebagian besar pendanaan pembangunan berasal dari program tanggung jawab sosial perusahaan (corporate social responsibility/CSR) dari mitra yang bekerja sama dengan kampus.

“Dapur kita sebagian besar anggarannya berasal dari CSR mitra. Kami berdialog dengan mereka dan mereka bersedia menyumbang untuk pembangunan ini,” tuturnya.

Ishaq berharap masyarakat dan civitas academica dapat melihat kehadiran SPPG MBG secara utuh sebagai bentuk kontribusi kampus dalam mendukung program peningkatan gizi masyarakat. Menurutnya, Unhas berkomitmen memastikan pelaksanaan program tersebut berjalan sesuai prinsip transparansi, memperhatikan aspek lingkungan, serta tidak mengganggu fungsi utama perguruan tinggi dalam penyelenggaraan pendidikan, penelitian, dan pengabdian kepada masyarakat.

Fadiah Nadhilah Irhad