Makassar, EBS FM Unhas — Nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) menembus level Rp18.000 per dolar AS pada perdagangan Kamis (4/6). Rupiah tercatat berada di level Rp18.022,10 per dolar AS pada pukul 11.20 Wita, sekaligus menjadi posisi terlemah sepanjang sejarah. Tekanan terhadap mata uang Garuda dipicu meningkatnya ketidakpastian global serta penguatan dolar AS di pasar internasional.
Analis mata uang Doo Financial Futures, Lukman Leong, menilai tekanan terhadap rupiah terutama dipengaruhi meningkatnya tensi geopolitik di Timur Tengah. Kondisi tersebut mendorong investor global mengalihkan dananya ke aset-aset yang dianggap lebih aman, termasuk dolar AS. Akibatnya, mata uang negara berkembang, termasuk rupiah, mengalami tekanan yang semakin besar.
“Rupiah diperkirakan akan melemah terhadap dolar AS yang menguat di tengah tensi geopolitik yang meningkat di Timur Tengah,” kata Lukman.
Selain dipicu faktor geopolitik, penguatan dolar AS juga didorong oleh membaiknya sejumlah indikator ekonomi Amerika Serikat. Data ketenagakerjaan dan indeks aktivitas sektor jasa Institute for Supply Management (ISM) tercatat lebih baik dari perkiraan pasar sehingga meningkatkan optimisme terhadap prospek ekonomi AS. Kondisi tersebut memperkuat permintaan terhadap dolar AS dan semakin menekan nilai tukar rupiah.
Di tengah tekanan eksternal tersebut, sentimen domestik dinilai belum cukup kuat untuk menopang pergerakan rupiah. Meski demikian, Lukman memperkirakan pelemahan rupiah tidak akan berlangsung tanpa kendali karena Bank Indonesia (BI) diperkirakan akan meningkatkan langkah stabilisasi di pasar keuangan. Menurutnya, posisi rupiah yang kembali mendekati level psikologis baru menjadi sinyal bagi bank sentral untuk memperkuat intervensi.
“Sentimen domestik yang masih buruk, namun kembali mendekati level psikologis baru, kemungkinan Bank Indonesia akan mengintervensi secara agresif,” ujarnya.
Sejalan dengan upaya tersebut, BI telah memberlakukan pembatasan pembelian valuta asing tanpa underlying menjadi maksimal 25 ribu dolar AS per pelaku per bulan sejak 2 Juni 2026. Kebijakan ini merupakan bagian dari langkah pengendalian permintaan dolar AS di pasar domestik. Selain itu, BI juga terus memperluas penggunaan skema Local Currency Transaction (LCT) dengan sejumlah negara mitra guna mengurangi ketergantungan terhadap dolar AS dalam transaksi internasional.
Gubernur Bank Indonesia Perry Warjiyo menjelaskan bahwa penguatan transaksi mata uang lokal menjadi salah satu strategi untuk menjaga stabilitas nilai tukar rupiah. Menurutnya, kerja sama penggunaan mata uang lokal dengan sejumlah negara, khususnya China, mulai menunjukkan hasil yang positif dalam mengurangi kebutuhan terhadap dolar AS.
“Local currency kita dengan yuan China sangat tinggi, dan sekarang sudah mulai terbentuk pasar domestik, sehingga mengurangi atau melakukan diversifikasi dari dolar, sehingga rupiah bisa menguat,” ujar Perry.
Selain memperkuat transaksi mata uang lokal, BI juga terus melakukan intervensi di pasar keuangan melalui pasar spot, domestic non-deliverable forward (DNDF), dan pasar offshore melalui non-deliverable forward (NDF). Bank sentral juga mengoptimalkan instrumen Sekuritas Rupiah Bank Indonesia (SRBI) untuk menarik aliran modal asing ke dalam negeri. Melalui berbagai langkah tersebut, BI berharap stabilitas nilai tukar rupiah tetap terjaga di tengah tekanan ekonomi dan gejolak global yang masih berlangsung.
Fadiah Nadhilah Irhad
